Posted by: Endan on: 1 April 2012
BismillahirRahmanirRahim……..
Menjadi muslimah bukan berarti hanya pasif menunggu tambatan hati datang menghampiri…
Kita juga bisa aktif-agresif, tentu saja tingkat agresitivitasnya terukur secara syar’i… Menunggu dirumah dengan tidak memperluas pergaulan bukan pilihan yang menguntungkan..
Sebaiknya kita memperluas pergaulan dengan para muslimah yang lain..
Berbagi informasi dan juga berkomunikasi secara intensif dengan para muslimah dan ummahat, adalah salah satu langkah yang perlu dicoba…
Siapa tahu diantara mereka ada yang menjadi jalan bertemunya kita dengan jodoh kita…
Mendatangi majelis pengajian, dan menyibukkan diri dengan semangat kita untuk mendapat pendamping hati yang shalih dan shalihah…
Dalam kondisi tertentu, boleh juga seorang muslimah menawarkan diri kepada lelaki yang bagus agamanya, dan bagus akhlaqnya…
Tentu saja bagaimana cara menawarkannya harus dicermati secara seksama agar tidak berkesan negative…
Resikonya memang diterima dan ditolak…
Kalau diterima, maka hal itu merupakan sebuah jawaban yang indah dan kita inginkan…
Namun bila akhirnya ditolak, hal itu bukan merupakan kehinaan…
Malah hal itu merupakan ladang kesabaran yang akan mendatangkan pahala yang besar…. SUBHANALLAH T__T
Bolehlah kita tengok sejenak kehidupan para pendahulu kita di zaman Nabi saw. sebagaimana hadits dari Anas Ra, dia berkata :
“Telah datang seorang wanita kepada Rasulullah saw dan menawarkan diri kepadanya, dan berkata “Wahai Rasulullah, apakah engkau berhajat (mau menikah) kepadaku?” lalu ketika menceritakan hadits ini, maka anak perempuan Anas ra mengatakan, “Sungguh sedikit malu perempuan itu dan buruk akhlaqnya.” Lalu dijawab oleh Anas ra, “Sesungguhnya dia itu (perempuan yang menawar diri lebih mulia dan baik darimu karena dia mencintai Nabi saw dan menawar dirinya demi kebaikan”.
(HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain, Sahal bin Sa’ad mengatakan bahwa seorang wanita datang menemui Rasulullah saw, lalu berkata,
“Wahai Rasulullah, aku datang untuk menyerahkan diriku kepadamu.” Tatkala wanita itu melihat Rasulullah saw tidak memutuskan sesuatu terhadap tawarannya itu, lantas dia duduk.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits diatas tidak dikhususkan kepada Rasul saja, bahkan bisa menjadi contoh teladan kepada semua wanita muslimah dan mereka diperbolehkan menawarkan diri kepada lelaki shalih agar menikahinya, tentunya selama tidak akan menimbulkan fitnah tersendiri dan dengan cara-cara yang terpuji. Dan apa yang terjadi kepada Rasul, selama tidak dikhususkan, maka menjadi perbuatan sunnah yang umum.
Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(Al-Ahzab : 21)
Bukhari mengemukakan hadits ini dalam bab seorang wanita menawarkan dirinya kepada seorang laki-laki yang shalih. Sementara dalam kita Fath Al-Bari disebutkan “Ibnul Munir berkata dalam kita Al-Hasyiah,
“Diantara kehebatan bukhari bahwa ketika dia tahu ada kekhususan dalam kisah seorang wanita yang menyerahkan dirinya ini, dia mencoba menyimpulkan hadits tersebut untuk perkara yang bukan kekhususan. Artinya, bahwa seorang wanita diperbolehkan menawarkan dirinya kepada seorang laki-laki yang shalih karena tertarik oleh keshalihannya. Maka hal itu diperbolehkan.
Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata:
“Hadits tersebut bisa dijadikan dalil mengenal bolehna seorang wanita menawarkan dirinya kepada seorang yang diharapkan keberkahannya.”
Adapun menjawab ayat Al-Quran yang menyebut kekhususan hanya untuk Nabi, sebagaimana firman Allah:
Perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada nabi kalau nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.
(Al-Ahzab : 50)
Pengkhususan disini dimaksudkan dalam masalah maskawin (mahar), yaitu dikhususkan untuk Rasulullah nikah dengan perempuan yang menghadiahkan dirinya kepada Nabi tanpa perlu beliau membayar maskawin, sedangkan bagi uma islam yang lain diwajibkan membayar maskawin, namun untuk Nabi diberi pengecualian. (Ibnu Katsir: 3/124)
*mesem-mesem*
Bebas Tag n COPAS ^__*
Hak cipta milik ALLAH SWT ~__~))
Posted by: Endan on: 25 Maret 2012
Mengapa wanita sepertinya terpuruk (terutama muslimah)? Kaum feminis sering menjadikan muslimah sebagai suatu obyek penderita dalam tatanan masyarakat. Padahal Islam sangat memuliakan wanita, walaupun Islam lahir di jazirah Arab. Sebelum Islam datang, kedudukan wanita sangatlah terhina dan tidak punya nilai sama sekali. Mungkin jika wanita cukup pendidikan agama maupun ilmu pengetahuan lainnya, posisi minor wanita dapat direduksi.
Kata-kata pertama dari QS. An-Nisa ayat 1, “Hai manusia . . .” merupakan suatu seruan untuk semua manusia, bukan hanya untuk orang beriman atau orang kafir saja. Jika kita memperhatikan isi QS. An-Nisa ayat 1, wanita dijadikan sebagai teman untuk Nabi Adam dalam awal penciptaan oleh Allah SWT agar tercipta keseimbangan dalam hidup. Dalam ayat tersebut di atas, Allah menciptakan wanita dan pria untuk berpasang-pasangan, dengan pemahaman arti kata zaujaha yaitu pasangan yang bermakna ‘pas’. Zaujaha merupakan kesatuan utuh karena dalam struktur kata terebut kita tidak menemukan kata feminin atau maskulinnya.
Dalam QS. Ar-Ruum : 21 Allah SWT menjelaskan wanita diciptakan untuk pria sebagai pasangannya yang pas dalam wadah pernikahan supaya pria menjadi tenang. Sunnah Rasulullah menganjurkan pernikahan dan melarang kerahiban. Pria wajib memuliakan wanita, karena wanita adalah amanah Allah SWT. Selain itu, pria dilahirkan dari seorang wanita (QS. Al-Mukminun : 11-14). Salah satu ciri-ciri orang yang paling bertakwa adalah yang paling memuliakan isterinya. Secara filosofis, wanita dan pria hidup berdampingan saling melengkapi dan mengisi agar tercipta keseimbangan.
Wanita adalah mutiara terpendam sehingga keindahannya dari ujung kaki sampai ujung rambut harus ditutupi, sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Jika tidak, keindahan itu tidak saja menghancurkan kemuliaan dan martabatnya sebagai wanita, namun akan terjadi dekadensi moral dalam masyarakat.
Untuk menjadi wanita yang mulia sesuai dengan yang digariskan Islam, pendidikan wanita dimulai dari rumah. Bayti jannati yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh ibu dan bapaknya. Selain itu, harus dijaga adab-adabnya sampai sejauh mana interaksi anak-ibu-bapak dapat berlangsung. Memang benar bahwa tanggung jawab pendidikan anak ada ditangan seorang ibu karena secara alamiah seorang anak sudah melekat dengan ibunya. Akan tetapi seorang ayah memiliki peranan yang sangat besar dalam mendidik anak, karena seorang ayah bertanggungjawab untuk memikirkan strategis pola pendidikan anak-anaknya dan ibu sebagai implementatornya. Perhatikan pula bahwa anak memiliki tiga hak yang wajib dipenuhi oleh orangtuanya yaitu :
1] Ayahnya wajib mencari ibu yang baik (shalihah).
2] Memberi nama yang baik.
3] Mengajarkan Al-Qur’an.
Dalam jaman sekarang ini, acapkali kita temui dilema wanita atas karir atau berumah tangga. Islam yang mengatur segala aspek kehidupan manusia sampai sekecil-kecilnya memberi solusi terbaik : saling menyelaraskan antara karir dan rumahtangga.
Jangan sampai antara pekerjaan yang satu dengan yang lainnya saling terdzalimi. Karir dengan pekerjaan rumah tangga harus berjalan paralel dan dikelola dengan baik (QS. Al-Ahzab : 35).
Surat Al-Ahzab ayat 35 ini merupakan ayat yang menerangkan orientasi antara pria dan wanita. Orientasi pria keluar rumah karena pria berkewajiban mencari nafkah, sedangkan orientasi wanita di dalam rumah karena wanitalah yang paling mahir mengelola urusan-urusan rumah tangga sehingga wanita tidak memiliki kewajiban mencari nafkah.
Orientasi dalam paragraf diatas berdasarkan pemahaman bahwa kodrat seorang pria secara naluri memikirkan hal-hal yang “besar” sehingga dikatakan orientasi pria adalah keluar rumah. Sebaliknya, dengan orientasi wanita yang secara naluriah lebih memperhatikan urusan-urusan atau hal-hal yang “kecil” maka dikatakan wanita berorientasi di dalam rumah.
Pemahaman dari ayat tersebut tidaklah berarti isteri tidak boleh keluar rumah dan bermanfaat bagi masyarakat
Posted by: Endan on: 25 Maret 2012
Copas –>Bidadari Dunia Itu Wanita Muslimah
Jika seorang lelaki ingin menarik hati seorang wanita, biasanya yg ditebarkan adlh berjuta-juta kata puitis bin manis, penuh janji-janji untuk memikat hati, “Jika kau menjadi istriku nanti, percayalah aku satu-satunya yg bisa membahagiakanmu,” atau “Jika kau menjadi istriku nanti, hanya dirimu di hatiku” dan “bla,,,bla,,,bla,,,” Sang wanita pun tersipu malu, hidungnya kembang kempis, sambil menundukkan kepala, “Aih…aih…, abang bisa aja.” Onde mande, rancak bana !!!
Lidah yg biasanya kelu untuk berbicara saat bertemu gebetan, tiba2 jadi luwes, kadang dibumbui ‘ancaman’ hanya krna keinginan untuk mendapatkan doi seorang. Kalo ada yg coba2 main mata ama si doi, “Jangan macem2 lu, gue punya nih!” Amboi,,, belum dinikahi kok udah ngaku2 miliknya dia ya? Lha, yg udah nikah aja ngerti kalo pasangannya itu sebenarnya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Emang iya sih, wanita biasanya lebih terpikat dgn lelaki yg bisa menyakinkan dirinya apabila ntar udah menikah bakal slalu sayang hingga ujung waktu, serta bisa membimbingnya kelak kepada keridhoan Allah Ta’ala. Bukan lelaki yg janji2 mulu, tanpa berbuat yg nyata, atau lelaki yg gak berani mengajaknya menikah dgn 1001 alasan yg di buat2.
Kalo lelaki yg datang serta mengucapkan janjinya itu adlh seseorang yg emang kita kenal taat ibadah, akhlak serta budi pekertinya laksana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, ini sih gak perlu ditunda jawabannya, cepet2 kepala dianggukkan, daripada diambil orang lain, iya gak? Namun realita yg terjadi, terkadang yg datang itu justru tipe seperti Ramli, Si Raja Chatting, atau malah Arjuna, Si Pencari Cinta, yg hanya mengumbar janji2 palsu, lalu bagaimana sang wanita bisa percaya dan yakin dgn janjinya?
Nah… Berarti masalahnya adlh bagaimana cara kita menjelaskan calon pasangan untuk percaya dgn kita? Pusying… pusying… gimana caranya ya? Ih nyantai aja, smua itu telah diatur dlm syariat Islam kok, krna caranya bisa dgn proses ta’aruf. Apa sih yg harus dilakukan dlm ta’aruf? Apa iya, seperti ucapan janji2 diatas?
Ta’aruf sering diartikan ‘perkenalan’, kalau dihubungkan dgn pernikahan maka ta’aruf adlh proses saling mengenal antara calon laki-laki dan perempuan sebelum proses khitbah dan pernikahan. Karena itu perbincangan dalam ta’aruf menjadi sesuatu yg penting sebelum melangkah ke proses berikutnya. Pada tahapan ini setiap calon pasangan dapat saling mengukur diri, cocok gak ya dgn dirinya. Lalu, apa aja sih yg mesti diungkapkan kpd sang calon, saat ta’aruf?
1. Keadaan Keluarga
Jelasin ke calon pasangan tentang anggota keluarga masing2, berapa jumlah sodara, anak keberapa, gmana tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Bukan apa-apa, siapa tahu dapat calon suami yg anak tunggal, bokap ama nyokap kaya 7 turunan, sholat dan ibadahnya bagus banget, guanteng abis, lagi kuliah di Jepang (ehm), pokoknya selangit deh! Kalo ketemu tipe begini, sebelum dia atau mediatornya selesai ngomong langsung kasih kode, panggil ortu ke dalam bentar, lalu bilang “Abi, boljug tuh kaya’ ginian jangan dianggurin nih. Moga-moga gak lama lagi langsung dikhitbah ya Bi, kan bisa diajak ke Jepang!”
2. Harapan dan Prinsip Hidup
Warna kehidupan kelak ditentukan dgn visi misi suatu keluarga lho, terutama sang suami karena ia adlh qowwan (pemimpin) dlm suatu keluarga. Sebagai pemimpin ia laksana nahkoda sebuah bahtera, mau jalannya lempeng atau sradak-sruduk, itu adlh kemahirannya dlm memegang kemudi. Karena itu setiap calon pasangan kudu tau harapan dan prinsip hidup masing2. Misalnya nih, “Jika kau menjadi istriku nanti, harapanku smoga kita semakin dekat kpd Allah” atau “Jika kau menjadi istriku nanti, mari bersama mewujudkan keluarga Sakinah, Mawaddah Warahmah.” Kalo harapan dan janjinya seperti ini, kudu’ diterima tuh, insya Allah janjinya disaksikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan para malaikat. Jadi kalo suatu saat dia gak nepatin janji, tinggal didoakan, “Ya Allah… suamiku omdo nih, janjinya gak ditepatin, coba deh sekali-kali dianya…,” hush…! Gak boleh doakan suami yg gak baik lho, siapa tahu ia-nya khilaf kan?
3. Kesukaan dan Yang Tidak Disukai
Dari awal sebaiknya dijelasin apa yg disukai, atau apa yg kurang disukai, jadinya nanti pada saat telah menjalani kehidupan rumah tangga bisa saling memahami, karena toh udah dijelaskan dari awalnya. Dalam pelayaran bahtera rumah tangga butuh saling pengertian, contoh sederhananya, istri yg suka masakan pedas sekali-kali masaknya jgn terlalu pedas, karena suaminya kurang suka. Suami yg emang hobinya berantakin rumah (karena lama jadi bujangan), setelah menikah mungkin bisa belajar lebih rapi, dll. Semua ini menjadi lebih mudah dilakukan karena telah dijelaskan saat ta’aruf. Namun harus diingat, menikah itu bukan untuk merubah pasangan lho, namun juga bukan bersikap seolah-olah belum menikah. Perubahan sikap dan kepribadian dalam tingkat tertentu wajar aja-kan? Dan juga hendaknya perubahan yg terjadi adlh natural, tidak saling memaksa.
4. Ketakwaan Calon Pasangan
Apa yg terpenting pada saat ta’aruf? Yang mestinya menduduki prioritas tertinggi adlh bagaimana nilai ketakwaan lelaki tersebut. Ketakwaan disini adlh ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan nilai ‘KETAKutan WAlimahAN’ Karena apabila seorang lelaki senang, ia akan menghormati istrinya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tidak suka berbuat zalim kepadanya. Gimana dong caranya untuk melihat lelaki itu bertakwa atau tidak? Tanyakan kepada orang2 yg dekat dgn dirinya, misalnya kerabat dekat, tetangga dekat, atau sahabatnya tentang ketaatannya menjalankan ketentuan pokok yg menjadi rukun Iman dan Islam dgn benar. Misalnya tentang sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, atau pula gmana sikapnya kpd tetangga atau orang yg lebih tua, dll. Apalagi bila lelaki itu juga rajin melakukan ibadah sunnah, wah… yg begini ini nih, ‘calon suami kesayangan Allah dan mertua.’
Inget lho, ta’aruf hanyalah proses mengenal, belum ada ikatan untuk kelak pasti akan menikah, kecuali kalau sudah masuk proses yg namanya khitbah. Nah kadang jadi ‘penyakit’ nih, krna alasan “Kan masih mau ta’aruf dulu…” lalu ta’rufnya buanyak buanget, sana-sini dita’arufin. Abis itu jadi bingung sendiri, “Yang mana ya yg mau diajak nikah, kok sana-sini ada kurangnya?”
Wah…, kalo nyari yg mulia seperti Khadijah, setaqwa Aisyah atau setabah Fatimah Az-Zahra, pertanyaannya apakah diri ini pun sesempurna Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau sesholeh Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu? Nah lho…!!!
Apabila hukum pernikahan seorang laki-laki telah masuk kategori wajib, dan sgalanya pun telah terencana dgn matang dan baik, maka ingatlah kata-kata bijak ini, ‘jika berani menyelam ke dasar laut mengapa terus bermain di kubangan, kalau siap berperang mengapa cuma bermimpi menjadi pahlawan?’
Yaa Akhi wa Ukhti fillah,,,
Semoga antum segera dipertemukan dgn pasangan hidup, dikumpulkan dlm kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, canda tawa yg tak putus-putusnya mengisi rongga kehidupan rumah tangga. Kalaupun nanti ada air mata yg menetes, semoga itu adlh air mata kebahagiaan, tanda kesyukuran kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena Ia telah memberikan pasangan hidup yg slalu bersama mengharap keridhoan-Nya, Aamiin Allahumma Aamiin.
Barakallahulaka barakallahu’alaika wajama’a bainakuma fii khairin.
Posted by: Endan on: 26 Januari 2012
Don’t Ever lost contact with someone you love, you’ll never know what’s gonna happen the next day, or the day after that..
Katakan Segera Sebelum Semuanya Terlambat
Sebuah kalimat yang singkat sih! tapi sangat padat dan berisi, penerapannya yang berdarah-darah, heeeuuhh….
Akan sangat mudah untuk orang yang bersifat ekstrovert untuk mengatakan sayang, suka, bahagia, sedih, malu tapi entahlah untuk kata maaf, sepertinya orang dengan sifat introvert dan ekstrovert akan memerlukan mental yang sama untuk mengatakan kata “Maaf”
.Berbeda dengan orang yang bersifat introvert akan berlaku sebaliknya (aku contohnya:( hehehehe) Baca entri selengkapnya »
Posted by: Endan on: 25 Januari 2012
DO’A UNTUK IMAMKU …
Ya Allah,,Posted by: Endan on: 20 Januari 2012
Sebuah judul yang kubaca dari postingan tulisan seorang teman semasa kuliah, Your Label *Not Available* spontan membuatku tertawa terbahak-bahak, hahahahah….., padahal sumpah, tulisannya hanya terdiri dari dua baris yang tak ada lucu-lucunya bahkan ceritanya menyedihkan.
Harus hadir dalam pernikahan mantan pacar dengan menghadirkan senyum termanis karena telah berkomitmen bahwa perpisahan bukan berarti tak lagi sejalan. Perpisahan yang terjadi karena perbedaan keyakinan, bukan karena tidak kuatnya ikatan tali kasih mereka tetapi lebih kepada ingin menghormati kedua orang tua kedua belah pihak, hikkzz… sedihnyaaa…
Tapi…., bukan cerita ini yang ingin kubagi tetapi lebih kepada judul yang dipilih. Bercerita dari hati, lepaaass, lucu menjadikan tulisan menjadi segar tak membosankan bahkan betah membaca sampai baris terakhir. Satu yang kusadari bahwa setiap orang itu unik sehingga percuma saja rasanya ingin membuat cerita seperti temanku ini karena dia adalah dia dan aku adalah aku dengan gaya masing-masing. so … aku cukup menikmati tulisanmu kawan …
spc 4 Nong Yoshephine –> bebaskan ekspresi kita dan mari berkarya …
Posted by: Endan on: 8 Januari 2012
Sekilas terlihat menyeramkan, kucing berbulu hitam dengan tatapan yang tajam mengingatkan pada jelmaan penyihir berwajah mengerikan dengan sapu terbangnya tapi gambar satu ini terlihat begitu kontras antara si kucing dengan salju yang bertebaran di sekelilingnya … “Manis
“
gambar yang menggemaskan buat para pecinta kucing, selamat menikmati sajalah …:D
Posted by: Endan on: 7 Januari 2012
Inilah Jejakku….
“Syndrom orang sukses” ujar temanku pada suatu waktu, apa iya begitu? karena selama ini kujalani hidupku apa adanya tanpa kusadari aku sudah terlalu jauh tertinggal dari yang lain, satu titik kelemahanku hahaha….
Mereka menikmatinya, kenapa aku tidak?
Senin, 09 Januari 2012 menjadi senin yang menyebalkan bagiku, my long holiday is over, simple banget kan? susah rasanya harus beranjak dari rasa malas yang sudah tertanam selama 2 minggu belakangan. Tak bermaksud mencurahkan isi hati atau menumpahkan kegalauan jiwa (caileee…
) hanya ingin bercerita, that it ^^
Melewati hari hanya dengan bekerja bekerja dan bekerja, apakah uang yang menjadi alasan? aku katakan dengan tegas, awalnya ia selanjutnya? tidak juga tuh! semua hanya sebuah perjalanan hidup yang dilewati sesimpel mungkin tanpa merepotkan dan menyusahkan orang lain. Sampai terkadang pada titik jenuhku aku bergumam, apa beda aku dengan mereka?
Inilah ketika tujuan hidupku hilang tak berarah, haha… i felt so empty ^^. Terbiasa berada dalam zona nyaman menjadikan semuanya biasa-biasa saja padahal kuanggap itu istimewa, tak terbersit sedikitpun kebanggaan pada diri. Sampai kutemukan satu status milik senior tersayang semasa kuliah dulu pada sebuah situs jejaring sosial… (Terima kasih kak Endang Sriwidyanti^^)
Dibalik kelemahan dan kerapuhan kemanusiaan setiap orang, pasti ada kebaikan dan keunggulannya. Sadarlah akan potensimu, dan jadikanlah dirimu berkat bagi orang lain. Waktu hidup terlalu singkat untuk terbenam menangisi kelemahan dan kekurangan kita.
2012
Tanpa resolusi yang tertulis, hanya kuyakinkan hatiku bahwa aku istimewa ^^
Your Comment